Friday, January 21, 2022

HASIL CIPTA PERADABAN LELUHUR TANAH AIR

Satu²nya bangsa yg bisa menciptakan alat musik dari Logam (Gamelan), (sejak zaman dahulu sudah mahir dlm ilmu seni & tambang). Bangsa Eropa Takjub ,dgn pencapaian Seniman tanah air pendahulu 👍

Saking majunya peradaban Nusantara , Bangsa Jerman mengacungkan 2 Jempol untuk 🇮🇩, terkait Teknik seleksi bahan keris (Batu meteor ) keris & cara Peleburannya dgn suhu 15000°C yg dilakukan para Mpu Nusantara dlm pembuatan Keris, sedangkan di jerman saat ini hanya mampu menghasilkan peleburan logam dgn Panas max 7000°C ,serta tak kalah penting adalah Bentuk Unik dari pada Keris (Diakui UNESCO) , ini adalah salah satu alasan kita wajib bangga dg cipta karya leluhur yg berupa Tosan Aji. 

Mari kita Guyup Rukun untk jaga & lestarikan Peninggalan Para Leluhur Nusantara yg pernah menguasai 2/3 Dunia ,(dijaman Singosari dg Prabu Kertanegara & di jaman Majapait dg Prabu Hayam Wuruk.)
#mputantular #sutasoma #Bhinnekatunggalikatanhanadharmamangrva
#SunanBonang #mpugandring #Bhairawa #mohlimo

Friday, January 14, 2022

ARTI SEBUAH DOA



DOA MAKHLUK : MANUSIA
Ya Tuhanku, berilah aku kesehatan, kepandaian, rejeki yang halal, keteguhan hati, limpahan berkat & rahmatmu. Jauhkan aku dari ujian dan godaan SETAN yang terkutuk.

DOA MAKHLUK : HEWAN
Ya Tuhanku, limpahi aku dengan makanan yang cukup, anak keturunan yang banyak, hutan yang raya sebagai rumah bagi kami semua. Jauhkan kami dari MANUSIA yang terkutuk, yang membunuhi kami dan memisahkan anak dari induknya, menjual organ tubuh kami, mengusir kami dari hutan demi kepentingan mereka sendiri untuk dijadikan perkebunan dan pertambangan.

MALAIKAT DAN SAYA
Malaikat yang ditugasi Tuhan mengabulkan doa mahluknya menyenggol bahu saya sambil berkata : Kalau mas jadi saya, doa siapakah yang harus kita kabulkan terlebih dahulu ??? Manusia sebagai makhluk beriman yang kadang tidak dapat mengendalikan nafsunya menindas makhluk semesta ? Ataukah doa para Hewan yang teraniaya terusir dari tanah tumpah darahnya, dibunuhi demi nafsu keserakahan Manusia ???. Aku terdiam dalam beku ... lama sekali ... sampai sang malaikat kembali berkata, Sudah benar jawabanmu adalah diam ... karena itu hakekat benar sejati, janganlah berucap walau itu satu kata sekalipun ... seperti mereka diluar sana, menepuk dada mengaku lebih hebat dari semua makhluk termasuk malaikat sepertiku. Mereka tidak paham, betapa berat tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan dipundakku ...

Dan kamipun bersama melihat langit luas dipenuhi bintang ... sang malaikat berdoa ... dan aku juga berdoa dalam gaung yang sama ...

TUHAN BERI SEMESTA LIMPAHAN BERKAH DAN KASIH SAYANG, LINDUNGI YANG TERANIAYA DAN HUKUM DENGAN PEDIH MAKHLUK PELAKUNYA ... APAPUN DERAJATNYA ...

Jaya Wijayanti Rahayu

Tuesday, January 11, 2022

MENGAPA ULAMA DIANUGRAHI KASTA TERTINGGI ? ..... KARENA BELIAU BERANI MENGORBANKAN HAKEKAT DIRI SEBAGAI ANUGRAH BAGI SEMESTA.



Pemangku = Ulama = Pendeta = Pastor = Rabi = Brahmana dan banyak lagi gelaran bagi seseorang yang dianggap paham akan ilmu kehidupan dan hukum keTuhanan. 

Para beliau menjadi tumpuan bagi umat yang ingin memahami hakekat kehidupan dan cara yang benar menjalaninya. Sastra Jawa melambangkan bahwa ulama itu bak pohon yang rindang, sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi yang membutuhkannya. Beliau menguasai ilmu hidup berdasarkan ajaran agama yang jadi panutannya, dan punya keikhlasan sangat tinggi berbagi pengetahuan sekalipun yang meminta petunjuk bukanlah satu iman / agama dengannya. Sebab mereka yakin bahwa dirinya adalah alat Tuhan membimbing mahluk yang bingung agar menemukan kembali jalan kehidupannya yang benar. Para beliau bak oase dipadang pasir yang tandus, siap memberikan air kehidupan bagi siapapun yang membutuhkannya. Ilmu pengetahuan ditubuhnya diamalkan dengan penuh kesantunan serta keikhlasan, pantang bagi dirinya menjual ilmu Tuhan yang didapatkannya sebagai anugrah bagi semesta. Damai ditataran lahir maupun batin adalah penanda berhasil tidaknya pengabdiannya di semesta raya.

Tetapi jaman sekarang sangat sulit kita menemukannya , yang hadirnya bak pohon rindang meneduhkan kehidupan dan sumber ilmu pengetahuan. 

Banyak orang mengaku dirinya ulama berbekal gelar yang ditempelkan didirinya sendiri, bukannya membimbing kearah yang benar tapi malah menyesatkan umat dalam keduniawiaan dan menebarkan bibit permusuhan dalam ladang kehidupan. 

Merasa dirinya dan golongannya paling benar, paling berhak atas sorga dikehidupan mendatang.

Menganggap ajaran lain sesat dan pantas dimusnahkan. Berdakwah liar dengan menjual ilmu pengetahuan, hidup mewah bergelimang harta memuja nafsu dunia yang seharusnya dihindarinya. 

Mengobral kata dan berjuta dalil, bahwa ulama pun berhak untuk kaya dengan caranya dan matinya layak masuk surga. 

INI AJARANNYA SIAPA SEBENARNYA ?  Ataukah kalian salah memahami hakekat ilmu sehingga tenggelam dalam gilanya pusaran nafsu pribadi? Bisa juga kalian mewarisi ajaran sesat dari guru yang juga ulama palsu, penebar kehancuran dan racun permusuhan di semesta raya.

SESUNGGUHNYA PERBEDAAN ITU ADALAH ANUGRAH TUHAN ATAS KEHIDUPAN INI, agar kita bisa saling menolong dan melengkapi kebaikan semesta dari sisi yang berbeda. Ketika kalian mengingkari anugrah itu, itu sama dengan mengingkari kehendak Tuhan atas perbedaan itu sendiri dan itu tindakan melawan Tuhan yang tidak akan pernah terampuni. 

Jadilah pandu yang jujur dan santun atas semesta, agar hadirmu menjadi perhiasannya dunia. Ulama itu gelar anugrah semesta, bukannya profesi yang menjual dakwah agama.


Maha Rsi MAUDARA.

Menjadi seorang pemimpin tidak cukup hanya ilmu ketata negaraan, pemimpin harus paham semesta kekuasaannya termasuk suasana hati dan spiritual dari semua mahluk yang bergantung kepada pengayomannya ..... dia harus sempurna kemampuan fisiknya, tajam akalnya dan lapang nuraninya. Bak Matahari perkasa yang menyinari kegelapan semesta ... pesan Maha Rsi MAUDARA Thdp Raja muda Hayam Wuruk.

Beliau disebut Maha Rsi, karena paham hukum semesta (agama), tinggi ilmu ketatanegaraannya dan luwes perilakunya. Tapi ketika ditanya apa sesungguhnya agama beliau ini ? ... beliau tersenyum tipis dan berkata ... biar yang itu urusanku dengan Yang Maha Kuasa. Jabatan beliau selaku Patih dalam pura (kepala rumah tangga istana), turut memperkaya pola berpikir kenegaraan,Maha Rsi MAUDARA Bersama Ratu TRIBHUWANATUNGGADEWI & Mahapatih GAJAHMADA menggembleng Raja muda HAYAMWURUK di Panggih sana.

Dalam budaya Jawa ada 8 pedoman hidup  (dikenal dengan sebutan Hasta Brata, yakni Surya, Chandra, Kartika, Buana, Angkasa, Bayu, Banyu, dan Geni.)

Surya yang berarti matahari memberikan isyarat tentang konsistensi diri. Seperti matahari yang selalu menepati janji untuk selalu bersinar di pagi hari seperti itu pula hendaknya sikap seorang pemimpin yang tak pernah ingkar janji.

Seorang pemimpin juga harus adil, berlaku sama dengan semua orang seperti matahari yang tidak pernah pilih kasih dalam menyinari.

Chandra, memiliki arti rembulan. Seorang pemimpin harus memiliki hati yang lembut, ramah, dan selalu memberikan kenyamanan seperti halnya ketika orang-orang memandang rembulan selalu merasa tentram dan senang.

Kartika artinya bintang. Seperti bintang yang menerangi, pemimpin juga hendaknya selalu dapat memberikan petunjuk, menghilangkan kesesatan dan kebingungan pada orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin juga harus punya visi yang jelas ke depan.

Pedoman berikutnya adalah Buana yang berarti bumi. Seperti bumi yang merupakan tempat berpijak, seorang pemimpin harus punya pendirian yang kuat sehingga rakyatnya memiliki pedoman dan panutan yang kokoh.

Angkasa yang luas memiliki arti bahwa seorang pemimpin harus selalu berlapang dada.

Bayu yang berarti angin memberikan pengertian bahwa pemimpin mampu mendatangkan kesejukan dan menyegarkan,

Dalam pedoman Jawa juga dikenal dengan Banyu yang berarti air. Seorang pemimpin harus dapat memotivasi untuk selalu tumbuh. 

Sedangkan Geni yang artinya api berarti pemimpin harus berani dan tegas dalam mengambil keputusan.




Jaya Wijayanti Rahayu,,,


Monday, January 10, 2022

PANJI MERAH PUTIH (GULA KELAPA) MAJAPAHIT


Banyak yang kurang paham, kira-kira seperti apa Panji Gula-Kelapa Majapahit yang kemudian diadopsi menjadi bendera Merah-Putih oleh negara Indonesia Modern.

Bentuknya bukanlah kotak seperti bendera masa kini, tetapi lebih kepada umbul-umbul atau panji. Bentuk tersebut terekam dalam "Pataka Nagari Wilwatikta". Sebenarnya Majapahit sendiri mewarisi ini dari para pendahulunya, saya bahkan berpendapat warna merah-putih ini telah digunakan sejak ribuan tahun lampau oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara (sebelum Majapahit), walaupun dengan kombinasi dan bentuk beragam.

Mengapa saya angkat jadi tema status malam ini, konon menurut cerita di masa lalu : ketika terjadi "Pergolakan Politis yang bisa membahayakan kawasan, panji ini selalu di kibarkan oleh mereka yang memiliki Nasionalisme tinggi, guna menandai pembawanya adalah ksatrya bagi kawasan Nusantara. Ditengah kondisi Indonesia modern saat ini yang juga diterpa berbagai ujian baik itu Korupsi, Disintegritas dan lainnya, maka ada gunanya bila kita membuat kembali Panji Kebesaran Nusantara ini guna melawan semua penyakitnya Negara.

Jadi yang merasa anak turun Majapahit, bikin saja duplikatnya. Jadikan kebanggaan pribadi sekaligus penanda bahwa kalianlah yang akan membela negeri ini ketika ada pihak yang berani mengacaukannya.

Jaya Wijayanti Rahayu..

Saturday, January 8, 2022

IKHTIAR MAKSIMAL DAN DOÀ

Usaha yang diimbangi permohonan kepada Tuhan merupakan sarana pendukung kita dalam proses meraih kebahagiaan hakiki.Sadari, bahwa setiap tindakan / kegiatan harus selalu dimulai dari TUJUAN.Dalam hal ini tujuan kita adalah meraih KEBAHAGIAAN. Jika tujuan sudah kita niatkan, maka kita bisa menetapkan PRIORITAS. Tentu Prioritas yang bisa memberikan kontribusi dan selaras dengan tujuan kita,kemudian BERIKHTIAR untuk mencapai ke arah itu.

Bisa dibayangkan jika kita menjalani hidup ini tanpa tujuan seperti layaknya layang² putus tertiup angin. Dengan analogi lain, seperti : jika kita naik TAXI tanpa tahu tujuan ,berputar-putar keliling kota sementara argo harga bertambah terus. Argo harga di sini kita anggap seperti umur kita yang terus bertambah.

Setiap individu berbeda-beda dalam menentukan prioritas, tapi kita mempunyai indikator dalam Qolbu yang akan mengirim signal. Jika Qolbu ini tidak nyaman berarti ada yang salah dengan tindakan yang kita ambil. Jika kita renungi ,indikator berupa ketidaknyamanan Qolbu tersebut seakan memberi tahu bahwa tindakan / sikap melanggar aturan main NYA ("...dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." ~ An-Naazi'aat 79 : 40-41). Atau,"....Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu . Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal² yang diwajibkan -NYA." Lukman 31 : 17.

Ada pepatah Bijak, " Walaupun ombak bergulung-gulung dan badai bergelora di permukaan laut,tapi air di dalamnya tetap tenang. Begitu juga kehidupan manusia. Orang yang memiliki tujuan hidup pada kenyataan yang lebih luas dan teguh tidak tergoyahkan oleh apa pun yang terjadi . Perubahan dunia yang dari waktu ke waktu mengombang-ambing tujuan hidupnya ,seolah-olah tidak ada artinya sama sekali baginya. Orang yang sungguh² patuh beragama dan teguh imannya, tidak akan pernah merasa gentar dan selalu memiliki ketenangan jiwa. Setiap saat ia siap menghadapi fakta demi fakta dengan tabah dan tenang."

Dòa merupakan bentuk energi kuat yang bisa dihasilkan manusia. Saat berdòa, kita menghubungkan diri dengan Tuhan,untuk memohon kekuatan dan memenuhi kebutuhan jiwa. Ketika berdòa,kita menyerahkan seluruh kesulitan(permasalahan) kepada Tuhan. Ini berarti kita tidak sendirian.

"Janganlah kamu memohon kepadaku sesuatu yang kamu tidak mengetahui Hakikatnya." ~ HUD 11 : 46.
"Ya Tuhan, berikanlah kami kebaikan di dunia & kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." Al-Baqarah 2 : 201.

Agar hati ini tetap terjaga tenteram,kita pun harus bijaksana dalam berdòa. Sebaiknya kita tidak memohon sesuatu yang kita tidak tahu hakikatnya. Memohonlah untuk diberi kekuatan dalam menghadapi Hukuman² dari NYA dan kenyamanan Qolbu - bukan memohon kenyamanan fisik atau kesenangan.

Jika kita memohon untuk kesenangan atau kenyamanan fisik, kebahagiaan hakiki tidak akan didapat. Karena kebahagiaan hakiki letaknya di dalam Qolbu bukan diluar diri. Jadi rasanya tidak cocok kalau kita berdòa minta materi banyak supaya bahagia. Karena Qolbu tidak memerlukan materi.

Sebagai ilustrasi sederhana,misalnya ada seorang bawahan saya yang sangat berterimakasih karena kebaikan saya. Dia mengatakan" apapun yang Bapak minta akan saya penuhi". Tentunya kita mengukur kemampuannya. Tidak mungkin saya meminta mobil baru buatan Eropa kepadanya. Permintaan saya kepadanya kemungkinan adalah ," selesaikan saja pekerjaanmu dan lakukan semua dengan lebih baik lagi". Begitu pula jika seorang miliarder atau konglomerat yang berterimakasih atas jasa yang sudah saya lakukan untuknya dan menawarkan hal yang sama , " Apapun yang Bapak minta akan saya penuhi. Sebutkan saja."saya juga akan mengukur dan meminta sesuatu yang bisa dia lakukan. Karena ini kesempatan untuk saya,tidak mungkin saya hanya meminta sebatang cokelat,berarti saya menganggap rendah konglomerat itu. Mungkin saya akan meminta mobil baru atau meminta jabatan untuk mengelola salah satu perusahaannya.

Ilustrasi di atas hanya menggambarkan apakah kita termasuk orang bijak dalam meminta sesuatu, dengan mengukur kemampuan sang pemberi. Nah , bagaimana dengan permintaan atau dòa kita kepada Tuhan? Mengapa kita tidak meminta yang paling istimewa dan yang tidak bisa dilakukan dan diberikan manusia? Mari kita meminta kebahagiaan Hakiki.

Kesimpulan dari gambaran diatas adalah :

- Kesadaran bahwa hidup di dunia ini adalah menanggung Hukuman dari leluhur ( Nabi ADAM) . Apapun hukuman yang diberikan Tuhan pasti mengandung hikmah atau karunia yang muncul setelah kita sabar menjalani dengan ikhtiar.

- Tuhan tidak akan menganiaya hambanya, semua hukuman yang diberikan sesuai dengan kemampuan kita. Jadi dengan bekal keyakinan,kita pasti sanggup melalui semua Hukuman-NYA , asal mau berpikir dan mengubah persepsi dengan sudut pandang / kesadaran spiritual. Tuhan tidak akan ingkar janji, Tuhan Akan memberikan kebahagiaan Hakiki jika kita menyadarinya.

- Agar Qolbu tetap terjaga ketentramannya,alangkah baik² nya jika kita berdòa dengan KESADARAN sehingga kita tidak memohon kepada-NYA dengan sesuatu yang kita tidak tahu HAKIKATNYA. Karena hanya Tuhan yang tahu apa yang kita butuhkan dan Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan.


Verba Volant Scripta  Manent,
Ora èt Labora





Sunday, January 2, 2022

Se rendre utile (acceptation totale)

Quand nous revenons sur le parcours de nos vies il y a quelques années, nous rencontrerons des choses qui nous rendent "mal à l'aise", c'est ce qui s'est passé et nous ne pouvons pas changer la situation. Mais nous avons le choix, acceptez-le comme une réalité incontournable ou le rejeter. Si nous choisissons ce dernier, cela signifie que nous allons tomber ou vivre dans une agitation constante. Comme l'exemple ci-dessus, à propos de ma meilleure amie avec son examen.

Si vous continuez à demander "pourquoi ce désastre lui est-il arrivé ?"  et que vous lui protestez également.
"Pourquoi êtes-vous soumis à des tests continus et répétés ? " Vous pouvez imaginer à quel point sa vie empire.

Mais si nous pouvons réaliser que toutes les calamités sont bonnes et certainement ce dont nous avons besoin à ce moment-là, nous nous rendrons et automatiquement nous pourrons être patients et sincères face à toutes les épreuves.

Dieu soit loué, avec les croyances qu'il a et en tirant les leçons de ce qui lui est arrivé, mon ami a pu se relever et être fort. Ce n'est pas facile et aussi rapide que d'appuyer sur le bouton « clic » ou de claquer des doigts pour pouvoir se rendre et être sincère. Bien sûr, cela nécessite un processus de réflexion.

L'abandon, c'est abandonner toute son âme à Dieu avec la pleine confiance qu'il est le plus saint et le plus souverain, choisissant sûrement le meilleur pour les humains.

Abandonner n'est pas ignorer les efforts et accepter passivement, mais plutôt essayer au maximum et ne jamais abandonner.

La personne qui se rend, accepte sincèrement toutes les dispositions (que ce soit un désastre ou une bénédiction) que Dieu a choisies pour elle, croit qu'elle est la plus miséricordieuse et la plus miséricordieuse, ne pourra pas agir arbitrairement ou persécuter ses semblables.

Se rendre demande une mentalité positive, qui doit toujours être préjudiciable envers Dieu. Comme autre exemple simple, il y a l'histoire d'une mère qui aime beaucoup son enfant. Pour le bien de son fils, il a demandé au médecin de lui injecter le vaccin vaccinal. Les actions de la mère seront certainement très douloureuses pour son enfant.Mais pour le bien de son enfant, la mère a été forcée d'avoir le cœur de le faire. De même, Dieu donne un inconvénient même douloureux pour le bien de son serviteur.

Parfois, Dieu donne des catastrophes pour que les humains puissent prendre des leçons. Dieu interdit aux humains de toujours suivre leurs passions uniquement pour le bien des humains eux-mêmes. C'est un exemple de la façon dont Dieu travaille.

D'après la description ci-dessus, il semble qu'il n'y ait en effet pas d'autre choix pour les humains que d'être SR que les événements qui, selon l'œil humain, sont beaux, ne sont en réalité pas nécessairement bons pour le créateur. Et vice versa, un événement que nous ressentons mal ou désagréable n'est pas nécessairement mauvais aux yeux de Dieu. L'expérience a prouvé que derrière les mauvais événements, il y a des leçons ou des leçons précieuses.

Si nous avons un désastre et que nous ne pouvons pas nous rendre, alors nous perdrons. Parce que la catastrophe arrive encore, alors que nous n'obtenons pas ce vrai bonheur.

L'indicateur de capitulation est l'absence d'inquiétude, d'inquiétude, de tristesse ou de déception.

À titre d'illustration, il y a une vieille histoire de l'Inde ci-dessous :

Un prince a été touché par une flèche empoisonnée en plein cœur. Le médecin est immédiatement venu le soigner. Mais avant que le guérisseur ne le traite, le prince ordonna " essayez de me dire quel genre de poison se trouve dans cette flèche".

Après que le poison ait été identifié et que le prince ait été informé, une autre commande a été entendue : "Dites-moi de quel type de matériau ces flèches sont faites". Après avoir été informé du type de matériau utilisé pour fabriquer les flèches, le prince a demandé à nouveau. "Qui a fabriqué les flèches ? "

Pendant ce temps, le poison de la flèche s'était répandu dans tout son corps. L'état du prince s'est affaibli, mais a continué à demander au guérisseur : "Avant de commencer, je dois découvrir qui m'a fait cela et amener cette personne ici pour que je puisse demander qui l'a envoyé ".

Le prince a demandé à son conseiller d'être convoqué, et le prince a dit "J'ai besoin de savoir pourquoi cela m'est arrivé". Peu de temps après, le prince est mort avec la flèche toujours plantée dans son cœur."


La leçon qui peut être tirée de l'histoire ci-dessus est que même si vous êtes un leader de haut niveau, ne suivez jamais trop votre ego pour ne pas accepter la calamité ou le fait. Plus nous cherchons et demandons pourquoi des malheurs ou des faits nous arrivent, pire nous sommes. Pourquoi n'acceptons-nous pas d'abord sincèrement la catastrophe ou le fait, puis essayons ou prenons des mesures pour surmonter les obstacles ou les difficultés.

"VERBA VOLANT SCRIPTA MANENT VELOX èt EXACTUS"

Sincères Amitiés,